Dakwah Digital: Persiapan Santri Jabal Rahmah Menjadi Konten Kreator
Dunia dakwah mengalami pergeseran paradigma yang sangat signifikan seiring dengan masifnya penggunaan media sosial dan platform video pendek. Di tahun 2026, mimbar-mimbar konvensional di masjid kini bersaing dengan algoritma media sosial yang sangat cepat. Menanggapi fenomena ini, Pondok Pesantren Jabal Rahmah mengambil langkah progresif dengan meluncurkan program dakwah digital. Program ini bertujuan untuk membekali para santri dengan kemampuan literasi media dan teknik produksi konten yang berkualitas agar pesan-pesan Islam yang damai dan inklusif dapat menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi Z dan Alpha.
Persiapan santri untuk menjadi konten kreator dilakukan melalui pelatihan intensif yang mencakup berbagai aspek teknis dan filosofis. Dari sisi teknis, para santri diajarkan cara pengambilan gambar yang estetis, teknik penyuntingan video yang dinamis, hingga pemahaman tentang cara kerja algoritma berbagai platform digital. Namun, yang lebih penting dari sekadar teknis adalah pengemasan pesan. Dakwah di ruang digital memerlukan bahasa yang ringan, visual yang menarik, namun tetap memiliki kedalaman sanad ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Santri Jabal Rahmah dilatih untuk menyederhanakan penjelasan kitab-kitab klasik menjadi narasi yang relevan dengan problematika kehidupan sehari-hari anak muda.
Tantangan terbesar dalam dunia digital saat ini adalah maraknya hoaks dan narasi kebencian yang seringkali dibungkus dengan simbol agama. Di sinilah peran santri menjadi sangat vital. Dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat, santri diharapkan mampu menjadi penjernih di tengah keruhnya informasi digital. Program di Jabal Rahmah menekankan bahwa seorang kreator konten santri harus memiliki etika digital yang tinggi (akhlaqul karimah digital). Mereka diajarkan untuk tidak hanya mengejar jumlah penayangan (views) atau pengikut (followers), melainkan mengejar keberkahan dari ilmu yang disampaikan.
Selain produksi konten video, program ini juga mencakup pelatihan penulisan kreatif untuk blog dan pengelolaan podcast. Santri didorong untuk membuat podcast bertema santai namun berisi, seperti “Ngobrol Perkara Iman” atau “Fikih Keseharian”. Dengan variasi format ini, dakwah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kaku atau membosankan. Transformasi digital di pesantren ini merupakan bentuk ijtihad baru dalam syiar Islam, di mana teknologi digunakan sebagai alat untuk membumikan nilai-nilai langit ke dalam realitas digital yang serba cepat.
