Haji Mardud: Ketika Ibadah Haji Tidak Diterima Allah

Admin/ Mei 28, 2025/ Berita, Kegiatan

Dalam ajaran Islam, ibadah haji adalah rukun Islam kelima dan merupakan puncak dari perjalanan spiritual seorang Muslim. Setiap jamaah tentu berharap hajinya menjadi Haji Mabrur, yaitu haji yang diterima Allah SWT dan balasannya adalah surga. Namun, ada pula konsep Haji Mardud, yang berarti haji yang tidak diterima atau ditolak oleh Allah. Pemahaman ini sangat penting agar jamaah senantiasa berhati-hati.

Haji Mardud terjadi ketika ibadah haji tidak memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan syariat, atau tercemari oleh perbuatan yang menggugurkan pahalanya. Faktor utama yang menyebabkan haji menjadi mardud adalah niat yang tidak ikhlas semata-mata karena Allah. Jika haji dilakukan untuk riya (pamer), mencari pujian manusia, status sosial, atau tujuan duniawi lainnya, maka haji tersebut terancam tidak diterima.

Selain niat yang salah, sumber harta yang digunakan untuk berhaji juga sangat menentukan. Jika biaya haji berasal dari harta haram, seperti hasil korupsi, riba, penipuan, atau perbuatan zalim lainnya, maka ibadah haji tersebut menjadi mardud. Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Baik dan hanya menerima yang baik. Oleh karena itu, kesucian harta menjadi syarat mutlak penerimaan haji.

Perilaku buruk selama pelaksanaan haji juga dapat menjadikan haji mardud. Contohnya adalah bertengkar, berkata kotor, berbuat maksiat, atau menyakiti sesama jamaah. Haji adalah momen untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan ajang untuk melampiaskan hawa nafsu atau emosi negatif. Perilaku yang tidak sesuai dengan adab dan akhlak haji dapat menggugurkan pahalanya.

Pelanggaran terhadap rukun atau wajib haji secara sengaja tanpa ada uzur syar’i juga berpotensi menjadikan haji mardud. Meskipun ada denda (dam) untuk beberapa pelanggaran, namun kesengajaan dan pengabaian terhadap rukun/wajib haji menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap ibadah itu sendiri. Penting bagi setiap jamaah untuk memahami dan melaksanakan setiap tahapan haji dengan benar.

Sikap merasa sombong atau bangga setelah berhaji, serta menganggap diri lebih suci atau lebih baik dari orang lain, juga bisa menjadi tanda haji mardud. Haji mabrur justru akan menumbuhkan sifat tawadhu (rendah hati), ketaatan yang lebih baik, dan kepedulian sosial yang meningkat. Jika setelah haji seseorang malah menjadi lebih angkuh, patut dipertanyakan kualitas hajinya.

Share this Post