Metode Sorogan: Rahasia Kedekatan Guru dan Santri Jabal Rahmah

Admin/ Januari 28, 2026/ Berita

Di tengah perkembangan teknologi pendidikan yang semakin masif, Pondok Pesantren Jabal Rahmah tetap mempertahankan sebuah sistem warisan leluhur yang terbukti efektif dalam membentuk kualitas keilmuan santri secara personal: Metode Sorogan. Istilah “sorogan” berasal dari bahasa Jawa “sorog” yang berarti menyodorkan. Dalam praktiknya, santri menyodorkan kitabnya di hadapan guru untuk dibaca dan dikoreksi secara langsung. Namun, lebih dari sekadar teknik membaca kitab, metode ini menyimpannya sebuah rahasia besar tentang kualitas hubungan manusiawi antara pendidik dan anak didik.

Metode Sorogan di Jabal Rahmah dianggap sebagai puncak dari pembelajaran individual. Di sini, setiap santri mendapatkan perhatian penuh dari sang guru sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing. Tidak ada santri yang tertinggal karena guru memahami betul di mana titik lemah dan kekuatan setiap individu. Proses tatap muka ini memungkinkan terjadinya dialog batin yang intens. Saat santri duduk bersimpuh di depan kiai atau ustadz, terjadi proses transfer nilai yang melampaui sekadar transfer pengetahuan. Guru bisa melihat langsung kejujuran, ketekunan, hingga kegelisahan yang terpancar dari wajah santri.

Salah satu rahasia kedekatan yang tercipta melalui metode ini adalah hilangnya sekat birokratis antara guru dan murid. Di Jabal Rahmah, seorang guru bukan hanya pemberi materi di depan kelas, tetapi menjadi mentor pribadi. Dalam sesi sorogan, seringkali terjadi percakapan ringan di luar isi kitab yang justru menjadi nasihat hidup paling berharga bagi santri. Sentuhan personal inilah yang membuat santri merasa benar-benar diperhatikan secara utuh sebagai manusia, bukan sekadar angka dalam absen kelas. Kedekatan ini membangun kepercayaan diri santri untuk berani mengakui ketidaktahuannya tanpa rasa takut akan dihakimi.

Selain aspek emosional, metode ini juga menjadi penjamin kualitas intelektual yang luar biasa. Seorang santri tidak bisa memanipulasi pemahamannya. Setiap harakat, makna kata, hingga kedudukan sintaksis (nahwu-sharaf) dalam kalimat diperiksa dengan sangat teliti oleh sang guru. Jika ada kesalahan, koreksi diberikan saat itu juga. Proses “belajar dari kesalahan” secara real-time ini membuat pemahaman santri menjadi sangat kokoh. Di Jabal Rahmah, penguasaan kitab melalui sorogan adalah prasyarat mutlak sebelum seorang santri diperbolehkan naik ke jenjang kitab yang lebih tinggi. Ini adalah bentuk kontrol kualitas yang sangat ketat namun dilakukan dengan penuh kasih sayang.

Share this Post