Moderasi Beragama di Jabal Rahmah: Menumbuhkan Nasionalisme Santri dan Cinta Tanah Air
Jabal Rahmah di Padang Arafah adalah saksi bisu pertemuan agung. Tempat yang penuh makna ini sering dikunjungi jemaah haji dan umrah. Bagi santri Indonesia, momen di sana bukan sekadar ziarah, melainkan refleksi mendalam atas nilai-nilai luhur ajaran Islam. Di sinilah semangat keberagamaan dipadukan dengan jiwa nasionalisme sejati.
Pengalaman spiritual di Jabal Rahmah mengajarkan pentingnya moderasi beragama. Kesadaran bahwa jutaan umat dari berbagai negara, latar belakang, dan mazhab berkumpul tanpa konflik adalah contoh nyata. Keberagaman ini, yang terpusat pada satu tujuan, menjadi inspirasi berharga untuk diterapkan sekembalinya di Indonesia.
Prinsip ini sangat relevan dengan semangat kebangsaan di Indonesia. Santri, yang ditempa di pesantren dengan nilai toleransi dan gotong royong, melihat keragaman di Arafah sebagai cerminan mini dari kebinekaan bangsa. Mereka semakin yakin bahwa perbedaan justru adalah kekuatan yang harus dijaga.
Nilai-nilai moderasi ini, yang meliputi toleransi dan antikekerasan, menjadi fondasi kokoh bagi penguatan cinta tanah air. Jemaah haji Indonesia membawa identitas bangsa mereka di tengah kerumunan dunia. Kebanggaan terhadap bendera Merah Putih menjadi manifestasi nyata dari patriotisme yang berakar pada keimanan.
Mengunjungi Jabal Rahmah memperkuat ikatan emosional santri terhadap sejarah Islam dan perjuangan para pendahulu. Mereka mengenang Hajar Aswad dan kisah Nabi Ibrahim, yang mengajarkan ketaatan total. Ketaatan ini kemudian diterjemahkan menjadi dedikasi untuk membangun dan menjaga keutuhan NKRI.
Pelaksanaan ibadah haji, dengan segala aturannya yang ketat, mengajarkan disiplin dan ketertiban. Disiplin dalam beribadah ini sejalan dengan disiplin bernegara dan mematuhi hukum. Santri memaknai ibadah ini sebagai pelatihan mental untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan taat asas.
Oleh karena itu, Jabal Rahmah bukan hanya tentang pengampunan, tetapi juga tentang komitmen. Komitmen untuk menjadi muslim yang taat sekaligus warga negara yang baik. Santri menyerap pelajaran ini, membawa pulang tekad untuk mengimplementasikan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa).
Pelajaran dari Padang Arafah dan Jabal Rahmah menjadi bekal bagi para santri. Mereka adalah agen perubahan yang akan menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, yang ramah, bukan marah. Semangat ini menjadi modal sosial yang besar untuk kemajuan dan perdamaian Indonesia.
Dengan demikian, pengalaman spiritual di Jabal Rahmah berfungsi sebagai katalisator. Ia menguatkan pemahaman moderasi beragama yang inklusif, sekaligus meneguhkan nasionalisme dan kesediaan berkorban demi masa depan bangsa. Santri adalah harapan yang menjunjung tinggi agama dan negara.
