Safari Ramadan: Santri Jabal Rahmah Jadi Imam Pelosok
Menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan memiliki tantangan tersendiri, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil atau pelosok. Terbatasnya jumlah tenaga pengajar agama dan imam masjid seringkali menjadi kendala dalam pelaksanaan salat Tarawih berjamaah. Menanggapi fenomena tersebut, Pondok Pesantren Jabal Rahmah meluncurkan program Safari Ramadan yang bertujuan untuk mengirimkan santri-santri pilihan ke berbagai desa yang membutuhkan bimbingan ibadah.
Program ini bukan sekadar pengabdian masyarakat biasa, melainkan menjadi ujian mental dan ilmu bagi para santri yang telah menyelesaikan hafalan serta pendalaman fikih mereka. Menjadi imam di wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk kota menuntut adaptasi yang cepat. Para santri tidak hanya bertugas memimpin salat, tetapi juga diharapkan mampu memberikan kultum (kuliah tujuh menit) yang menyejukkan serta menjadi rujukan bagi warga dalam bertanya mengenai urusan agama sehari-hari.
Kawasan pelosok seringkali memiliki akses informasi yang terbatas, sehingga kehadiran santri dari Jabal Rahmah disambut dengan suka cita yang luar biasa. Warga merasa mendapatkan pencerahan baru melalui bacaan Al-Quran yang fasih dan penyampaian dakwah yang relevan dengan kehidupan desa. Kehadiran anak-anak muda ini membawa energi positif di masjid-masjid yang sebelumnya mungkin terasa sepi karena minimnya regenerasi penggerak dakwah.
Selain aspek ibadah mahdhah, para santri juga diajarkan untuk membantu kegiatan sosial di desa tempat mereka ditugaskan. Mereka berbaur dengan warga dalam kerja bakti, membantu mengajar mengaji anak-anak di TPA, hingga mendampingi kegiatan tadarus malam. Pengalaman hidup di lapangan seperti ini sangat berharga bagi pembentukan karakter santri agar mereka tidak canggung saat nantinya benar-benar terjun ke masyarakat luas setelah lulus dari pesantren.
Secara jangka panjang, program ini diharapkan dapat memperkuat jejaring dakwah Islam yang inklusif. Pesantren Jabal Rahmah berkomitmen untuk terus membekali santrinya dengan kemampuan komunikasi massa dan penguasaan kitab yang mumpuni. Dengan demikian, misi sebagai pelayan umat dapat terlaksana dengan baik, dan cahaya Ramadan dapat menyentuh setiap sudut negeri, termasuk wilayah-wilayah yang selama ini jarang terjangkau oleh para dai perkotaan.
