Sorogan dan Bandongan: Dua Metode Klasik yang Menjamin Kedalaman Pemahaman Kitab

Admin/ Oktober 1, 2025/ Bandongan, Edukasi, Pendidikan

Sistem pendidikan di pondok pesantren Indonesia memiliki akar tradisi yang kuat, dan dua metode pengajaran yang telah teruji melintasi zaman adalah Sorogan dan Bandongan. Kedua metode ini—yang secara kolektif disebut Dua Metode Klasik—bukan sekadar cara penyampaian materi, tetapi merupakan filosofi pembelajaran yang menjamin kedalaman dan pemahaman mendalam terhadap kitab-kitab kuning. Kombinasi unik antara pembelajaran individual dan kolektif ini menjadikan Dua Metode Klasik tersebut sangat efektif dalam mencetak ulama yang mumpuni. Memahami Dua Metode Klasik ini adalah kunci untuk mengapresiasi keunggulan sistem pendidikan pesantren.

Sorogan adalah metode pembelajaran yang bersifat individual. Dalam sesi sorogan, santri secara bergiliran menghadap langsung Kiai atau Ustaz, membaca satu per satu baris kitab, sementara guru menyimak, mengoreksi bacaan, dan menjelaskan makna lafadz (kata) secara langsung. Metode ini menjamin bahwa setiap santri mendapatkan perhatian penuh dan koreksi yang spesifik terhadap kelemahan individu, baik dalam aspek nahwu (tata bahasa) maupun sharaf (morfologi) Arab. Di Pondok Pesantren Nurul Huda, Cirebon, sesi sorogan wajib dilakukan santri senior (kelas Madrasah Aliyah) setiap hari setelah Shalat Subuh, mulai pukul 05.30 hingga 06.30 WIB. Intensitas interaksi satu lawan satu ini memastikan bahwa kesalahan tidak terakumulasi, sehingga pemahaman dasar santri benar-benar kokoh.

Di sisi lain, Bandongan (atau Wetonan) adalah metode pembelajaran yang bersifat massal. Kiai akan membacakan kitab secara cepat dan mendalam di hadapan puluhan, bahkan ratusan, santri sekaligus. Santri mendengarkan dengan seksama sambil membuat catatan dan memberikan makna (makna gandul) di sela-sela baris kitab menggunakan pensil atau tinta khusus. Metode ini melatih konsentrasi tinggi dan kecepatan tanggap santri, serta berfungsi sebagai pemantik inspirasi karena mereka menyaksikan langsung otoritas keilmuan Kiai. Kelas bandongan untuk Kitab Fathul Mu’in di pesantren tersebut biasanya diadakan pada Hari Sabtu dan Minggu dengan durasi dua jam per sesi.

Aspek keselamatan, meskipun tidak langsung terkait dengan metode pengajaran, tetap menjadi prioritas dalam pengaturan kelas yang melibatkan banyak santri. Pada 12 April 2025, pihak keamanan pondok bekerjasama dengan Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Sektor Timur untuk melakukan simulasi evakuasi darurat di aula tempat kelas bandongan diadakan. Prosedur ditetapkan bahwa jika terjadi keadaan darurat, santri harus dievakuasi dalam waktu maksimal tiga menit di bawah arahan mudabbir. Prosedur ini menjamin bahwa saat santri sedang fokus pada keilmuan Dua Metode Klasik ini, keamanan fisik mereka tetap terjaga dalam setiap sesi pembelajaran massal.

Share this Post